“Kayu Tanam Bergerak: Dari Festival ke Gerakan Perubahan Masyarakat”

Kayu Tanam | Malam itu, di bawah gemerlap lampu tenda dan denting musik Minang, ada sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan rakyat. Festival Aksi Keselamatan Lalu Lintas dan Kebudayaan Kuliner Tradisional yang digelar di halaman Kantor Camat Kayu Tanam pada akhir Oktober 2025, tiba-tiba berubah menjadi simbol gerakan: sebuah tanda bahwa masyarakat siap bergerak menuju perubahan.

Ratusan warga tumpah ruah, bukan hanya untuk menikmati panggung hiburan, tapi untuk merayakan semangat baru — semangat kolaborasi dan kesadaran bersama. Di sela aroma sate yang menyala di bara dan tawa anak-anak yang berlarian, terdengar bisikan kecil tentang “Kayu Tanam Baru,” sebuah ungkapan yang kini mulai populer di kalangan warga.

Festival ini seakan menjelma ruang terbuka bagi masyarakat untuk membicarakan masa depan. Di sela pertunjukan lawak dari Upiak Budi “Tak Tuntuang”, pesan keselamatan jalan dan pentingnya disiplin publik diselipkan secara halus namun mengena. Tawa yang meledak dari penonton menjadi bukti bahwa edukasi bisa menyenangkan, dan perubahan bisa dimulai dari kesadaran yang dibungkus hiburan.

“Kalau kita ingin jalan yang aman, mulai dari diri sendiri,” ujar seorang warga tua sambil tersenyum di depan stan kuliner. Kalimat sederhana itu menyentuh inti dari perubahan yang mulai tumbuh di tengah masyarakat Kayu Tanam — perubahan yang lahir bukan dari pidato, tapi dari kesadaran sehari-hari.

Di panggung berikutnya, Kintani melantunkan lagu bertema semangat dan perjuangan. Nada suaranya mengalun menyatu dengan gemuruh tepuk tangan, seolah mengukuhkan bahwa budaya Minang bukan sekadar warisan, tapi kekuatan moral yang bisa mendorong transformasi sosial. Malam itu, musik menjadi bahasa persatuan, dan panggung menjadi mimbar kebangkitan.

Kehadiran Bupati Jon Kenedy Aziz dan Wakil Bupati Rahmattahiyaat bukan sekadar formalitas. Keduanya berjalan di antara warga, menyalami pedagang kecil, menanyakan harga kuliner, dan memotret bersama remaja yang membawa bendera kecil bertuliskan “Ayo Berubah.” Gambar itu viral di media sosial lokal, menjadi simbol kecil dari kepemimpinan yang mulai mendengar denyut masyarakatnya.

Di sisi lain, Endarmy, anggota DPRD Sumatera Barat yang turut mendukung acara, menegaskan dalam sambutannya bahwa perubahan tak akan datang jika rakyat hanya menunggu. “Festival ini bukan tujuan, tapi awal dari pergerakan kita untuk membangun kesadaran, dari lalu lintas hingga pola pikir,” katanya, disambut sorakan semangat dari warga yang memadati lapangan.

Ketika permainan KIM dimulai, suasana makin hidup. Namun di balik tawa dan antusiasme berebut hadiah, terselip semangat baru: kebersamaan. Orang-orang yang biasanya hanya saling menyapa di pasar kini duduk bersebelahan, berbagi kupon dan cerita. Di situlah perubahan itu bekerja secara sunyi—di dalam hubungan antarwarga yang kembali akrab dan terbuka.

Malam berakhir dengan dentuman petasan kecil dan nyala obor bambu di pinggir jalan. Tapi api sesungguhnya menyala di hati warga Kayu Tanam. Dari sebuah festival sederhana, lahir percikan semangat untuk memperbaiki diri, membangun daerah, dan memulai babak baru yang lebih tertib, lebih sadar, dan lebih bersatu.

Kayu Tanam kini bukan sekadar nama kecamatan di peta Sumatera Barat. Ia telah menjadi simbol dari sebuah niat kolektif — bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dari lapangan berdebu tempat orang tertawa bersama, hingga tekad bersama untuk berkata: “Kita rancang, kita ubah, dan kita maju.”

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed