NKRINEWS45. COM |
WONOSOBO – Polres Wonosobo menggandeng Tim Survei Patron dari Universitas Indonesia (UI) untuk mengkaji persoalan kemacetan di jalur wisata Dieng. Upaya ini dilakukan untuk mendorong penanganan lalu lintas yang tidak hanya mengandalkan respons di lapangan, tetapi juga berbasis data dan kondisi riil kawasan.
Langkah tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dieng Lancar Wisata Nyaman” yang digelar di Aula Endra Dharmalaksana, Kamis (20/8/2026). Forum mempertemukan kepolisian, pemerintah daerah, akademisi, pengelola objek wisata, pelaku usaha pariwisata, pengusaha travel, tour organizer, Paguyuban JIP Dieng, hingga pelaku jasa wisata.
Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja mengatakan, persoalan kemacetan di Dieng perlu ditangani melalui penelitian dan data empiris. Hasil kajian tersebut nantinya akan diserahkan kepada Bupati Wonosobo dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan.
“Penyusunan kebijakan penanganan masalah Dieng harus didasarkan pada penelitian dan data empiris agar tepat sasaran,” kata Ricky.
Menurutnya, pelibatan Patron UI diharapkan dapat memberikan gambaran objektif mengenai kondisi demografi, pola pergerakan kendaraan, persepsi masyarakat, serta kebutuhan pelayanan di kawasan wisata Dieng.
Ricky juga meminta seluruh pihak menyampaikan kondisi lapangan secara terbuka agar hasil kajian tidak bias dan benar-benar dapat menjadi dasar kebijakan yang dibutuhkan masyarakat.
Sementara itu, dari sisi operasional, Satlantas Polres Wonosobo telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Personel ditempatkan sejak dini di titik-titik yang berpotensi menjadi sumber kepadatan, antara lain Pintu Langit, Gardu Pandang, Batu Angkruk, Watu Angkruk, dan Sikapuk.
Personel juga ditempatkan di sejumlah tanjakan dengan kemiringan sekitar 15 persen untuk mengantisipasi kendaraan mogok maupun kendaraan yang berhenti atau parkir di bahu jalan.
Polres Wonosobo turut menyiapkan ganjal kendaraan dan kendaraan derek di sekitar Pos Gardu Pandang. Koordinasi dengan petugas parkir di masing-masing objek wisata dilakukan untuk mencegah aktivitas keluar-masuk kendaraan mengganggu arus utama.
Kasat Lantas Polres Wonosobo AKP Seno Hartanto menjelaskan, persoalan utama di jalur Dieng adalah ketidakseimbangan antara volume kendaraan dengan kapasitas jalan dan lahan parkir.
Pada masa libur Lebaran 2026, jumlah pengunjung objek wisata Dieng tercatat mencapai 530.150 orang, dengan lebih dari 21.500 kendaraan roda dua dan roda empat.
Karakteristik jalan yang sempit, menanjak, dan berkelok membuat kendaraan mogok dapat dengan cepat memicu antrean dari dua arah. Kondisi semakin kompleks ketika pengendara mengambil jalur berlawanan untuk mendahului antrean, sehingga kendaraan dari arah berlawanan bertemu dan menyebabkan arus berhenti.
Karena itu, pembahasan dalam FGD tidak hanya berfokus pada aspek kepolisian, tetapi juga mengarah pada solusi lintas sektor.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang mengusulkan penyediaan kantong parkir berkapasitas besar yang terhubung dengan moda shuttle. Sementara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mendorong perubahan orientasi dari mass tourism menuju quality tourism dengan mempertimbangkan daya dukung kawasan.
Akademisi Dr. Ahmad Khoiri menilai persoalan kemacetan Dieng perlu ditangani melalui tiga tingkatan. Pada tingkat mikro, dilakukan rekayasa lalu lintas ketika kemacetan terjadi. Tingkat mezo mencakup pembatasan kendaraan pribadi, penyediaan kantong parkir, dan shuttle publik. Sedangkan tingkat makro membutuhkan penataan ruang secara jangka panjang.
Ia juga mendorong integrasi data antarinstansi, mulai dari volume dan kecepatan kendaraan, kapasitas jalan, pola asal-tujuan wisatawan, kondisi infrastruktur, hingga data angkutan umum.
Pemanfaatan teknologi, seperti pemantauan lalu lintas secara real-time dan sistem reservasi perjalanan yang terintegrasi, juga dinilai dapat membantu mengendalikan pergerakan kendaraan menuju Dieng.
Bagi Polres Wonosobo, FGD ini menjadi langkah awal untuk mengubah pola penanganan kemacetan dari sekadar respons saat terjadi kepadatan menjadi mitigasi berbasis kajian dan data.
Kepolisian tetap menempatkan pengaturan lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan sebagai prioritas, sembari mendorong solusi lintas sektor untuk mengendalikan arus kendaraan di kawasan wisata.
Dengan menggandeng Patron UI serta melibatkan pemerintah daerah dan pelaku pariwisata, Polres Wonosobo berharap penanganan jalur Dieng dapat dilakukan secara lebih terukur. Tujuannya bukan sekadar mengurai antrean kendaraan saat musim liburan, tetapi membangun sistem lalu lintas yang mampu mendukung keamanan, kenyamanan wisatawan, aktivitas ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan Dieng.(Amin).
Tim-KJN
Red-Spyd




















