Memasuki hari ketiga pelaksanaan Operasi SAR Gabungan, tim yang terdiri dari personel Brimob Polda Maluku Utara, Basarnas, BPBD, TNI, serta relawan setempat terus melanjutkan proses pencarian dan evakuasi terhadap korban pendaki yang terjebak akibat erupsi Gunung Dukono, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Operasi dilaksanakan di kawasan Gunung Dukono, Desa Mamuya, Kecamatan Galela, dengan titik koordinat 1°42’13.7″N / 127°52’50.2″E.
Tim SAR Gabungan bergerak menuju kawasan gunung untuk melakukan penyisiran pada sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi terakhir kedua korban saat erupsi terjadi. Meskipun titik keberadaan korban berhasil ditemukan, proses evakuasi berlangsung cukup lambat akibat kondisi medan yang ekstrem serta tingginya aktivitas vulkanik Gunung Dukono.
Kendala utama yang dihadapi tim di lapangan adalah material vulkanik yang menimbun korban dalam kondisi sangat padat dan sulit digali. Selain itu, korban diduga tertimpa material batu berukuran besar akibat erupsi, sehingga kondisi jasad korban sudah tidak utuh dan hanya tersisa tulang belulang. Di tengah proses evakuasi, Gunung Dukono masih terus menyemburkan abu vulkanik, material panas, serta lontaran batu pijar ke sejumlah arah, sehingga tim harus bekerja dengan penuh kehati-hatian demi keselamatan personel di lapangan.
Pada pukul 15.00 WIT, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi dua korban meninggal dunia (MD) dari bibir kawah Gunung Dukono menuju Pos Komando Taktis (Poskotis). Kedua korban diketahui bernama Hengwekiang Thimoty, laki-laki, usia 30 tahun, warga negara Singapura, serta Sahin Mohrej Abd Hamid, laki-laki, usia 27 tahun, warga negara Singapura. Keduanya berhasil dievakuasi pada hari ketiga operasi SAR dalam kondisi jasad yang telah tersisa tulang belulang.
Selanjutnya, pada pukul 17.45 WIT, Tim SAR Gabungan bersama kedua korban tiba di Poskotis. Dengan selesainya proses evakuasi, Operasi SAR Gabungan secara resmi dinyatakan ditutup.
Minggu, (10/05/2026).




















