NKRINEWS45. COM |
DEMAK – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat informasi digital semakin mudah diproduksi dan disebarkan. Di sisi lain, teknologi tersebut juga membuka peluang munculnya informasi palsu, manipulasi digital, hingga deepfake.
Kondisi itu mendorong Polres Demak untuk memperkuat literasi digital di kalangan pelajar. Generasi muda dinilai perlu memiliki kemampuan untuk mengenali informasi yang benar sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Kapolres Demak AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra mengatakan, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis.
“AI memiliki banyak manfaat, terutama untuk mendukung pembelajaran dan kreativitas. Namun, pelajar juga harus memahami risiko penyalahgunaannya. Jangan sampai teknologi justru digunakan untuk menyebarkan informasi yang tidak benar atau merugikan orang lain,” kata Samel, Jum’at (4/9/2026) di Mapolres Demak.
Menurut Samel, salah satu tantangan yang kini semakin berkembang adalah munculnya konten hasil manipulasi AI yang sulit dibedakan dari konten asli.
Foto, video, maupun suara seseorang dapat direkayasa menggunakan teknologi digital. Konten tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, melakukan penipuan, atau membentuk persepsi tertentu terhadap seseorang.
“Sekarang sebuah foto, video, bahkan suara bisa dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat dan terdengar seperti asli. Karena itu, jangan menjadikan apa yang kita lihat di media sosial sebagai kebenaran tanpa melakukan pengecekan,” ujarnya.
Polres Demak mengingatkan pelajar agar membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima melalui media sosial.
Salah satunya dengan melihat sumber informasi, membandingkan dengan sumber lain, serta tidak terburu-buru membagikan konten yang belum diketahui kebenarannya.
Selain menjadi pengguna yang kritis, pelajar juga didorong memanfaatkan AI untuk kegiatan yang produktif, seperti membantu memahami materi pelajaran, mencari referensi, mengembangkan kreativitas, dan mendukung proses belajar.
Samel menegaskan, kehadiran AI tidak seharusnya membuat generasi muda kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
“Teknologi adalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakannya secara bijak, bertanggung jawab dan tetap menjunjung etika. Kami ingin pelajar menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga cerdas dalam menggunakannya,” pungkasnya.
Munthohar_Ershi
Red-Spyd






















