PD. PARIAMAN | Ramadan selalu menghadirkan cerita-cerita tentang ketulusan yang bekerja dalam diam. Di sebuah kediaman yang tak asing bagi masyarakat, suasana haru dan hangat menyatu ketika puluhan anak yatim datang dengan langkah pelan, membawa harapan sederhana: merasakan kebahagiaan menjelang hari kemenangan.
Rabu siang itu, halaman rumah Ketua DPRD Kabupaten Padang Pariaman, Aprinaldi, S.Pd, M.Pd, AIFO, dipenuhi wajah-wajah polos dari tiga nagari—Campago, Sikucur, dan V Koto Timur. Mereka bukan sekadar tamu, tetapi bagian dari keluarga besar yang disambut dengan penuh kehangatan oleh Aprinaldi bersama sang istri, Ibu Yona Arisca, M.Pd.
Tak ada sekat formalitas yang kaku. Yang terasa justru kedekatan. Satu per satu anak-anak itu duduk rapi, sebagian tersenyum malu, sebagian lagi menatap penuh rasa ingin tahu. Di hadapan mereka, bukan hanya santunan yang akan diberikan, tetapi juga perhatian yang tulus.
Bagi Aprinaldi, kegiatan ini bukanlah hal baru. Setiap Ramadan, ia bersama keluarga selalu menyempatkan diri untuk berbagi dengan anak-anak yatim. Bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan hati yang terus dijaga.
“Alhamdulillah, ini menjadi momen yang selalu kami nantikan setiap tahun. Bisa berbagi dengan anak-anak yatim adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujarnya dengan nada hangat.
Sebanyak 110 anak yatim menerima santunan dalam kegiatan tersebut. Namun lebih dari itu, mereka juga mendapatkan ruang untuk merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak sendiri dalam menjalani kehidupan.
Aprinaldi menyadari, kehilangan sosok orang tua bukanlah hal yang mudah. Karena itu, ia ingin memastikan anak-anak tersebut tetap merasakan kehangatan, terutama di momen penting seperti Idul Fitri.
“Setidaknya, melalui kegiatan ini, kita ingin mereka ikut merasakan kebahagiaan menyambut lebaran, seperti anak-anak lainnya,” ungkapnya.
Sang istri, Yona Arisca, turut ambil peran dalam menyambut dan berinteraksi langsung dengan anak-anak. Ia tampak menyapa dengan lembut, menanyakan kabar, bahkan sesekali mengusap kepala mereka dengan penuh kasih.
Kehadiran keduanya menghadirkan suasana kekeluargaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Bagi anak-anak itu, perhatian kecil seperti ini menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Di sudut lain, beberapa orang tua dan pendamping yang turut hadir tampak terharu. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana kepedulian dapat hadir dalam bentuk yang sederhana, namun berdampak besar.
Bagi masyarakat sekitar, kegiatan ini bukan hanya tentang santunan, tetapi juga tentang contoh nyata bagaimana seorang pemimpin hadir di tengah masyarakatnya dengan hati.
Aprinaldi menegaskan bahwa komitmen berbagi ini akan terus ia jaga. Baginya, membangun hubungan dengan masyarakat tidak cukup hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui sentuhan kemanusiaan.
“Silaturahmi harus terus kita rawat. Apa yang kami lakukan ini semoga menjadi bagian kecil dari upaya mempererat kebersamaan,” tuturnya.
Menjelang akhir kegiatan, senyum mulai merekah di wajah anak-anak. Ada yang menggenggam erat bantuan yang diterima, ada pula yang mulai bercanda dengan teman-temannya. Suasana yang awalnya penuh haru perlahan berubah menjadi kebahagiaan.
Ramadan sekali lagi membuktikan, bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari sesuatu yang besar, tetapi dari ketulusan untuk berbagi dan peduli.
Dan di kediaman sederhana itu, 110 anak yatim pulang membawa lebih dari sekadar santunan—mereka membawa cerita tentang perhatian, kasih sayang, dan harapan yang tumbuh kembali menjelang hari kemenangan.
TIM RMO






































