NKRINEWS45. COM |
Kabupaten Tangerang – Ratusan jamaah yang terdiri atas para ulama, masyayikh, santri, santriwati, alumni, tokoh masyarakat, dan keluarga besar menghadiri Haul ke-21 Guru Besar Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun di Majlis Ta’lim Nurul Iman, Kampung Betong, Desa Gandaria, Kecamatan Mekar Baru, Sabtu (25/7/2026) malam.
“Guru Telah Berpulang, Ilmunya Tetap Menyala: Haul ke-21 KH. Nurdin bin KH. Sikun Menyatukan Santri, Alumni, dan Umat dalam Cahaya Sanad Ilmu”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut diawali dengan Hadiah Puji dan Tawasul yang dipimpin KH. Nursaman, dilanjutkan pembacaan Gemah Kalam Ilahi oleh Ust. Maman dari Mekar Baru Cijeruk dan Ustadzah Suhaeni dari Kresek. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren MTNI Ust. Syafiullah dan Kepala Desa Gandaria Ridwan Hidayatullah. Usai jeda yang diisi penampilan karya santriwati Nurul Iman, acara dilanjutkan dengan Curahan Hati Alumni Abah Kh. Nurdin (Alm) mauizah hasanah oleh KH. Munawar dari Serang, Banten, dan ditutup dengan doa bersama.
Haul tersebut menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, menjaga kesinambungan sanad keilmuan, serta meneguhkan kembali adab kepada guru sebagai pondasi utama dalam menuntut ilmu.
Semasa hidupnya, Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun dikenal sebagai ulama yang istiqamah mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan Islam, dan pembinaan akhlak umat. Warisan ilmu beliau hingga kini terus hidup melalui para santri, alumni, keluarga, dan masyarakat yang mengamalkan ajaran-ajarannya.
Dalam sambutannya, Ust. Syafiullah menegaskan bahwa haul bukan sekadar mengenang hari wafat seorang ulama, tetapi menjadi ikhtiar menjaga keberlanjutan perjuangan ilmu dan akhlak.
“Haul adalah momentum menyambung sanad ilmu, menjaga adab, serta merawat keberkahan yang diwariskan para guru. Guru boleh berpulang ke hadirat Allah SWT, tetapi ilmu, akhlak, dan keteladanannya tidak boleh ikut terkubur,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pesan yang hingga kini terus hidup di kalangan santri.
“Kamu boleh ragu dengan dirimu, tetapi jangan pernah ragu dengan barokah gurumu,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keikhlasan, tawadhu’, kesabaran, dan penghormatan kepada guru.
Sementara itu, mewakili keluarga besar, H. Nursaman, S.Pd.I. menyampaikan bahwa Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi milik umat.
“Beliau mengajarkan kesederhanaan, keikhlasan, dan kecintaan terhadap ilmu agama. Warisan itu akan terus hidup selama diamalkan oleh para murid dan masyarakat,” katanya.
Suasana semakin hangat ketika Ust. Ri’an, mewakili para alumni, membagikan kenangan masa-masa mondok bersama Abah Ji Nurdin yang mengundang senyum para jamaah.
“Dulu kalau telat mengaji rasanya jantung berdetak lebih cepat. Begitu terdengar langkah Abah Guru, yang tadinya masih ngobrol langsung sibuk buka kitab. Bahkan ada yang kitabnya terbalik tetap dibaca, yang penting kelihatan serius mengaji,” kenangnya, disambut gelak tawa para hadirin.
Namun di balik kisah yang menghibur itu, tersimpan pelajaran yang mendalam.
“Sekarang kami baru paham. Teguran guru bukan untuk membuat murid takut, tetapi agar hidup kami tertata. Kasih sayang guru terkadang hadir dalam bentuk nasihat yang tegas. Hari ini kami justru merindukan teguran itu,” tuturnya.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak pernah berhenti belajar.
“Jangan pernah putus mengaji. Jangan berhenti belajar hanya karena merasa sudah bisa. Selama napas masih berhembus, selama itu pula kita tetap menjadi murid. Datangilah majelis ilmu, hormati guru, dan amalkan ilmu yang diperoleh,” pesannya.
Mengutip ungkapan yang masyhur di tengah umat Islam, Ust. Ri’an mengingatkan:
اُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.”
Menutup curahan hatinya, ia berkata,
“Kalau dulu kami takut dimarahi guru karena tidak mengaji, sekarang kami justru rindu dimarahi beliau. Dari teguran itulah kami belajar disiplin, dari nasihat itulah kami belajar kehidupan, dan dari doa beliau kami merasakan keberkahan hingga hari ini,” tutupnya.
Puncak acara diisi mauizah hasanah oleh KH. Munawar dari Serang, Banten.
Dalam tausiyahnya, KH. Munawar mengajak seluruh jamaah menjadikan haul sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperkuat adab kepada guru.
Beliau membuka tausiyah dengan firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
Beliau kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Menurut KH. Munawar, menghormati guru berarti memuliakan pewaris risalah kenabian. Ilmu yang diajarkan dengan penuh keikhlasan akan terus mengalir pahalanya selama diamalkan oleh para murid.
Beliau juga mengutip hadis Rasulullah SAW:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Mengutip hikmah Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, KH. Munawar mengingatkan:
لَا يَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِالتَّعْظِيمِ وَالتَّوْقِيرِ
“Ilmu tidak akan diraih kecuali dengan memuliakan dan menghormati guru.”
“Guru bukan hanya mengajarkan huruf demi huruf, tetapi membimbing hati menuju Allah SWT. Hormatilah guru, dekatilah ulama, karena keberkahan hidup sering kali lahir dari adab sebelum ilmu. Murid yang baik bukan hanya mengenang gurunya, tetapi melanjutkan perjuangan gurunya,” tutupnya.
Allah SWT berfirman:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Rasulullah SAW juga bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Haul ke-21 ini menjadi pengingat bahwa seorang guru sejati tidak pernah benar-benar pergi. Selama ilmu, akhlak, dan perjuangannya terus diamalkan, selama itu pula cahaya dakwahnya akan tetap menerangi kehidupan umat.
Majlis Ta’lim Nurul Iman berharap tradisi haul terus menjadi ruang mempererat ukhuwah Islamiyah, menjaga sanad keilmuan, dan melahirkan generasi yang berilmu, beradab, serta berakhlakul karimah.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10).
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Almaghfurlah KH. Nurdin bin KH. Sikun, melapangkan alam kuburnya, meninggikan derajatnya di sisi-Nya, serta menjadikan ilmu, dakwah, dan keteladanan beliau sebagai amal jariah yang terus mengalir hingga akhir zaman.
رَحِمَهُ اللّٰهُ رَحْمَةً وَاسِعَةً وَأَسْكَنَهُ فَسِيحَ جَنَّاتِهِ
“Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat yang luas kepadanya dan menempatkannya di dalam surga-Nya yang paling lapang.”
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Catatan Editorial Redaksi
Kata adalah amanah, dan berita adalah kesaksian atas sebuah peristiwa. Karena itu, setiap informasi yang kami sajikan diikhtiarkan berpijak pada kebenaran, kejujuran, tabayyun, dan kemaslahatan demi menjaga marwah umat, bangsa, dan negara.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(Muttafaq ’Alaih: HR. Al-Bukhari No. 6018 dan HR. Muslim No. 47).
dikutip oleh : Imron Rosadi, C.BJ /Wid – Syarifuddin Bin Salim (Tim – 3 /Pers)
Redaksi | 25 Juli 2026




















