Lautan Manusia di Boja: Mengenang Nyai Pandansari dalam Harmoni Kirab Budaya Syawalan

NKRINEWS45. COM |
KENDAL, BOJA – Langit Kecamatan Boja menjadi saksi bisu perpaduan harmoni antara spiritualitas dan pelestarian tradisi yang mendalam. Ribuan masyarakat tumpah ruah memadati sepanjang rute kirab untuk menyaksikan prosesi sakral Kirab Budaya Syawalan Nyai Pandansari (Nyai Sedapu) yang digelar khidmat pada Kamis (26/03/2026).

Tradisi tahunan yang dihelat pasca-Lebaran ini bukan sekadar seremoni rutin. Bagi warga Boja, kirab ini adalah manifestasi rasa syukur (Merti Deso) sekaligus penghormatan mendalam terhadap Nyai Pandansariβ€”sosok ulama sekaligus pejuang wanita legendaris yang menyebarkan syiar Islam di tanah Boja.

Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Kendal, Hj. Diah Kartika Permanasari, S.E., M.M., didampingi Kepala Disporapar Kendal, Achmad Ircham, Anggota DPRD Kendal Fraksi PDI-P, H. Tri Purnomo, serta Camat Boja, Sunarto, beserta jajaran Forkopimcam.

Prosesi dimulai dari Rest Area Ngadibolo dengan pelepasan resmi oleh Kepala Desa Boja, Rofiq Anwar. Suasana seketika berubah magis saat barisan pembawa Kain Luwur (penutup makam) melintas. Kehadiran pemeran tokoh legendaris seperti Kyai Boja, Ki Wonobodri, dan Ki Wonosari seolah membangkitkan ingatan kolektif masyarakat akan masa perjuangan dakwah di masa lampau.

Meski rintik gerimis sempat membasahi bumi, hal tersebut tak menyurutkan antusiasme warga. Kades Boja, Rofiq Anwar, justru memaknai hujan tersebut sebagai simbol kesejukan.

“Kirab ini adalah wasilah untuk memohon keberkahan bagi desa, sekaligus menjaga amanah sejarah agar tidak tergerus oleh zaman,” ujar Rofiq dengan penuh takzim.

Puncak perhatian publik tertuju pada sosok Nyai Pandansari yang tampil anggun di barisan depan. Di belakangnya, Kades Boja beserta istri dan Camat Boja beserta istri tampak bersahaja menaiki kereta delman, disusul barisan perangkat desa dan BPD yang menyapa warga dengan hangat. Potret ini menjadi simbol kemanunggalan antara pemimpin dan rakyatnya.

Setibanya di panggung kehormatan depan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pasar Boja, rombongan disambut hangat oleh Bupati Diah Kartika Permanasari. Sebagai simbol kesuburan tanah, dua unit gunungan raksasa berisi hasil bumi diarak dan dipersembahkan kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Diah mengapresiasi tinggi konsistensi warga dalam menjaga warisan leluhur.

“Kegiatan ini adalah wujud nyata nguri-nguri budaya yang sarat nilai religi. Melalui Kirab Syawalan, kita tidak hanya mengenang perjuangan fisik Nyai Pandansari, tapi juga mewarisi semangat kerukunan dan Ukhuwah Islamiyah antarwarga,” tutur Bupati.

Defile kreatifitas warga dari berbagai RW (RW 01 hingga RW 10) menambah warna dalam kirab ini. Harmoni musik drumband dari SMPN 1 Boja dan SMP Muhammadiyah Boja, serta partisipasi aktif siswa SMAN 1 Boja, SMKN 3 Kendal, hingga siswa SLB, memberikan kesan inklusif bahwa budaya ini milik semua kalangan.

Kelancaran acara juga didukung penuh oleh pengawalan ketat dari Danramil 14/Boja, Polsek Boja, Dishub, Satpol PP, ormas Squad Nusantara, hingga Linmas yang bahu-membahu menjaga ketertiban.

Rangkaian sakral ini mencapai puncaknya di area Makam Nyai Pandansari. Camat Boja, Sunarto, mengajak masyarakat untuk terus memegang teguh jati diri budaya sebelum dilanjutkan dengan doa bersama dan ritual penggantian Kain Luwur.

Acara ditutup dengan tradisi “rebutan gunungan” yang paling dinanti. Meski ludes dalam hitungan detik, kemeriahan berlangsung penuh sukacita. Bagi warga, membawa pulang bagian dari gunungan bukan sekadar soal sayuran atau buah, melainkan simbol harapan akan keberkahan dari Allah SWT untuk satu tahun ke depan.

Red-Spyd

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed