BEKASI – nkrinews45.com
Rumah Sakit (RS) Karunia Kasih berkolaborasi dengan Komunitas Koordinator Wilayah (Korwil) Grab Pondok Gede menggelar seminar Bantuan Hidup Dasar atau BHD. Seminar ini menyasar masyarakat umum, khususnya pengemudi ojek online, agar siap bertindak saat menemukan kondisi gawat darurat di jalan.
Kegiatan yang berlangsung Kamis (16/7/2026) itu menghadirkan dr. Dhea Charientania Eryanti sebagai narasumber utama.
*BHD Kunci Selamatkan Korban Henti Napas dan Jantung*
Menurut dr. Dhea, BHD merupakan pertolongan pertama yang wajib diberikan segera kepada korban henti napas dan/atau henti jantung sebelum tim medis tiba di lokasi.
“BHD adalah pertolongan pertama yang diberikan segera pada korban henti napas dan/atau henti jantung sebelum tim medis tiba. Tujuannya, mempertahankan hidup, mencegah kerusakan otak, dan menjaga fungsi vital tubuh,” terang Dhea dalam acara seminar tersebut.
*”Safety First”, Jangan Jadi Korban Kedua*
Dalam sesi pemaparan, dr. Dhea menekankan pentingnya prinsip keselamatan. Ia mengingatkan para peserta untuk selalu mengutamakan keamanan diri sendiri, korban, maupun penolong lain.
“Sebelum menolong, pastikan AMAN BAGI ANDA, KORBAN, DAN PENOLONG LAIN. Jangan sampai kita jadi korban kedua,” tegas Dhea.
Prinsip, “Safety First” mencakup empat langkah; memastikan lokasi bebas dari bahaya seperti listrik, api, atau kendaraan, mengecek respons korban, segera menghubungi 119 atau 112, serta menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan.
*Kenali 6 Tanda Gawat Darurat*
dr. Dhea juga mengajak peserta, khususnya para pengemudi ojol yang kerap berada di jalan, untuk mengenali 6 tanda gawat darurat yang harus segera ditangani:
1. *Henti Napas*: Dada tidak naik-turun dan tidak ada hembusan napas
2. *Henti Jantung*: Tidak sadar dan tidak teraba nadi di leher
3. *Tersedak Berat*: Tidak bisa berbicara, memegangi leher, wajah membiru
4. *Pendarahan Hebat*: Darah keluar banyak dan tidak berhenti
5. *Stroke atau Nyeri Dada Hebat*: Tubuh lemah sebelah, bicara pelo, nyeri dada hebat
6. *Syok*: Kulit pucat dan dingin, lemas, napas cepat
“Aturannya simpel. Jika tidak sadar dan tidak bernapas normal, itu Gawat Darurat. Butuh tindakan sekarang juga,” katanya.
*Hafalkan DRSABCD*
Sebagai panduan praktis, metode *DRSABCD* diajarkan kepada seluruh peserta. Urutannya adalah: *Danger* amankan lokasi, *Response* cek respon korban, *Send for Help* hubungi 119/112, *Airway* buka jalan napas, *Breathing* cek napas 10 detik, *Circulation* lakukan RJP dengan rasio 30 kompresi : 2 napas buatan, dan *Defibrillation* gunakan AED bila tersedia.
“RJP harus dimulai kurang dari 10 detik setelah dipastikan korban henti napas atau henti jantung. Kualitas kompresi lebih penting daripada jumlah,” jelas dr. Dhea.
Ia menutup dengan tiga pesan kunci: *Cepat tapi Tenang*, *Waktu adalah Otak* karena setiap menit keterlambatan RJP menurunkan peluang hidup korban 10 persen, dan *Berani Bertindak* karena BHD oleh orang awam dapat meningkatkan angka keselamatan hingga tiga kali lipat.
“Dengan memahami BHD dan DRSABCD, kami berharap semakin banyak masyarakat yang mampu menjadi penolong pertama dan menekan angka kematian akibat kondisi gawat darurat di Indonesia,” pungkasnya.



































