NKRINEWS45. COM |
Catatan Jayanto Arus Adi
“لوْ أَمْرتُ أحَداً أنْ يسجُدَ لأحَدٍ؛ لأمْرتُ المرأَةَ أنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِها”
Artinya: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya.”
Hadis Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad.
Jika ditafsirkan dengan luwes, maknanya mendalam yaitu seandainya manusia diperintahkan untuk memberi penghormatan tertinggi selain kepada Allah, maka tidak ada yang lebih pantas selain seorang istri menghormati suaminya. Sebab di balik perjuangan dan pengorbanan suami, dialah yang insya Allah dapat membimbing pasangannya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kali ini Kang Sosro berbicara dengan nada yang berbeda dari biasanya. Jika ia kerap sibuk membahas politik hingga lupa waktu, sore itu suasananya terasa lebih damai dan reflektif.
“Mari kita bahas hal yang lebih menenangkan. Membahas politik justru menambah pening kepala. Seringkali yang dibicarakan belum tentu jelas arahnya,” ucapnya dengan semangat yang tulus.
Istilah “Wawuk” yang ia kemukakan masih menjadi rangkaian narasi bersambung, sebuah konsep yang merangkum banyak dimensi, tak cukup dijelaskan dengan satu kata saja.
“Jangan pertentangkan hal ini. Kodrat wanita adalah keindahan ciptaan Allah. Emansipasi itu baik dan diperlukan, tetapi bagaimanapun, seorang wanita tidak dapat menggantikan posisi imam,” tutur Kang Sosro dengan tenang namun tegas.
Perubahan pandangan dan kedalaman pemikirannya membuat banyak teman, termasuk saya sendiri, merasa kagum. Penuturannya kini lebih berwawasan, berpijak pada landasan yang jelas, dan kaya rujukan pemikiran, jauh dari ucapan yang asal terucap.
“Seringkali kita lupa mengakui satu hal penting, ibu adalah fondasi peradaban. Pemimpin-pemimpin besar selalu didampingi oleh wanita yang agung. Khadijah dan Aisyah adalah wanita-wanita mulia di sisi Rasulullah. Dalam sejarah bangsa ini, ada Ibu Tien di samping Pak Harto, Ibu Ainun mendampingi Habibie, lalu Ibu Ani Yudhoyono dan Iriana Joko Widodo,” urai Kang Sosro dengan luwes.
Rizal yang mendengarkan hanya menggeleng takjub, “Luar biasa. Kang Sosro seakan menemukan cahaya baru. Ia telah melampaui pandangan-pandangan lamanya, seakan lahir kembali.”
Yang membuat Rizal semakin takjub adalah keluasan wawasan yang dimilikinya. Entah karena pendalaman studi atau karena kerinduan untuk terus belajar, referensi yang dikemukakan terasa semakin luas dan berbobot.
“Aku pun kadang tak sepenuhnya memahami kedalaman pemikirannya. Biarlah, yang penting ia menemukan jalannya sendiri,” pikir Rizal dalam hati. Persahabatan mereka, Sosro, Rizal, dan Pak Wo, bukan baru sehari dua hari, melainkan sudah terjalin lama, dan itulah yang membuat perubahan ini terasa begitu bermakna.
Di saat percakapan hampir terhenti, Pujo datang menyapa. Sahabat masa sekolah ini, putra Mbah Sastro, seorang tokoh masyarakat, dikenal sebagai pribadi yang tekun beribadah dan rendah hati.
“Silakan dilanjutkan, mari berbincang sambil menikmati kopi di teras rumah saja,” ajak Pujo dengan keramahan yang tulus.
Beranda rumah Pujo terasa asri dan menenangkan. Sebagai penerus tradisi leluhur sekaligus Kepala Desa yang terpilih, ia memilih tetap tinggal di kampung halaman. Setiap kali pulang ke desa, duduk di beranda rumahnya sembari mendengarkan gemericik air Kali Kidu yang melintas di depan rumah adalah momen yang selalu dinanti. Damai, sederhana, dan penuh kehangatan.
Desa yang dipimpin Pujo ini memiliki sejarah yang dalam, konon pernah menjadi tempat persembunyian pengikut Pangeran Diponegoro. Pohon kantil dan sawo yang tumbuh bertebaran di sana bukan sekadar pepohonan, melainkan saksi bisu jejak sejarah para pejuang masa lalu.
“Silakan dinikmati kopinya,” ucap Pujo. “Kalau ada diskusi, boleh saja suatu saat kita bahas kemandirian desa. Terlalu lama kita membahas politik terus,” usulnya dengan senyum ramah.
“Setuju. Kemandirian desa dan ketahanan desa memang penting dibahas. Namun minggu ini mari kita selesaikan dulu seri pembahasan tentang ‘Simulakrum Wawuk’,” jawab Kang Sosro lembut.
Kang Sosro kemudian melanjutkan dengan pandangannya, bangsa ini tak lepas dari fenomena yang ia sebut sebagai “Simulakrum Wawuk”, sebuah konsep yang tidak bermakna negatif, justru sebaliknya.
“Esensi peradaban, kekuatan, dan kelembutan bersumber dari rahim seorang ibu. Sejak zaman nabi, zaman Firaun, hingga kini, peran wanita tetaplah mulia dan tak tergantikan. Ketika seorang pemimpin kehilangan pondasi spiritual dalam keluarganya, kepemimpinannya cenderung rapuh,” jelasnya.
Beliau mencontohkan, Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin paripurna, salah satunya karena Khadijah radhiyallahu ‘anha mendampingi sepenuh hati, meleburkan hartanya, perhatiannya, dan jiwanya demi tegaknya kebenaran. Nabi pun setia hingga akhir hayat Khadijah.
“Hal yang sama berlaku bagi para pemimpin republik kita, Bung Karno, Soeharto, Habibie, SBY, Jokowi, hingga Presiden Prabowo. Kekuatan mereka tak lepas dari wanita hebat yang mendampingi,” tegas Kang Sosro.
“Simulakrum Wawuk harus dipahami dalam konteks ini, bukan hal yang tabu atau berlebihan, melainkan sebuah kebenaran yang sering terlupakan.”
“Aku berharap Presiden Prabowo dan Ibu Titiek Soeharto dapat kembali bersatu. Negara ini butuh kekuatan utuh, tak boleh pincang. Beliau bisa mencontoh Presiden Prancis Emmanuel Macron, bagaimana dukungan pasangan menjadi kekuatan besar bagi seorang pemimpin,” harapnya tulus.
Pujo menyimak dengan tenang, lalu menimpali: “Saya mungkin belum sepenuhnya paham soal istilah itu. Tapi saya percaya, jika Presiden dan Ibu Titiek bersatu kembali, itu akan membawa keberkahan, bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk Indonesia tercinta.”
(Bersambung)
Penulis:
Jayanto Arus Adi – Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers. Ketua SMSI Jawa Tengah dan Wakil Ketua SMSI Pusat. Inisiator dan Ketua Umum MOJO (Mobilitas Wartawan Indonesia). Aktif di organisasi Satu Pena di bawah kepemimpinan Denny JA. Alumni FIB Undip, kini menempuh program doktoral di Unsoed Purwokerto, konsentrasi Komunikasi Agribisnis.
(Vio Sari)
Red-Spyd




































