BMCKTR Sumbar Rampungkan Perbaikan Jalan Amblas Padang Olo, Akses Sungai Limau–Maninjau Kembali Lancar

Proyek Senilai Rp1,4 Miliar Tingkatkan Konektivitas dan Ekonomi Warga

PADANG PARIAMAN | Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat menuntaskan perbaikan jalan provinsi yang sempat amblas di kawasan Padang Olo, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padangpariaman. Infrastruktur strategis ini kini kembali bisa digunakan masyarakat setelah sempat terputus akibat longsor beberapa waktu lalu.

Kerusakan jalan sepanjang lebih kurang 40 meter tersebut sempat menjadi ancaman serius bagi pengguna jalan. Akses utama yang menghubungkan Sungai Limau–Lubukbasung–Maninjau lumpuh, sehingga warga terpaksa memutar jauh melalui jalur Tiku. Kini, setelah proses rehabilitasi selesai dengan anggaran sekitar Rp1,4 miliar, jalur vital ini kembali normal dan diresmikan penggunaannya.

Detail Pekerjaan Infrastruktur

Perbaikan jalan dilaksanakan oleh CV Perintis Utama Mandiri dengan konstruksi teknik modern, antara lain pemasangan bronjong penahan tebing, timbunan badan jalan, pemasangan selimut pengendali erosi, penanaman vegetasi penguat lereng, serta pembangunan saluran baru untuk mengalihkan aliran air penyebab longsor.

Seluruh material yang digunakan berasal dari lokasi galian resmi berizin, salah satunya di Korong Kalampaian, Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, sesuai dengan persetujuan Gubernur Sumbar Nomor: 540/3-PERIZ/DPMPTSP/IX-2022.

Proses pelaksanaan diawasi ketat oleh konsultan pengawas serta petugas lapangan dari Dinas BMCKTR Sumbar, sehingga mutu pekerjaan dapat dipertanggungjawabkan.

Testimoni Pengguna Jalan

Bagi pekerja lapangan, keberhasilan proyek ini sangat dirasakan manfaatnya.
Rizaldi (32), seorang sopir angkutan hasil bumi, mengaku terbantu dengan selesainya perbaikan.

“Sebelumnya kalau bawa kelapa dan pinang dari Sungai Limau ke Bukittinggi harus memutar hampir 30 kilometer. Waktu tempuh jadi dua kali lipat, biaya solar pun membengkak. Sekarang lebih cepat dan hemat,” tuturnya.

Hal serupa diungkapkan Nurlis (45), pedagang sayur yang rutin membawa dagangan ke pasar tradisional. Menurutnya, jalur yang kembali normal membuat pengiriman hasil tani lebih segar sampai ke pembeli.

Konfirmasi Pemerintah Provinsi

Kepala Dinas BMCKTR Sumbar, Dr. Erasukma Munaf, didampingi Kabid Bina Marga Adratus Setiawan serta PPK Risman, memastikan bahwa pekerjaan jalan Padang Olo telah selesai 100 persen.

“Ruas Sungai Limau–Sungai Geringging–Lubukbasung hingga Maninjau, termasuk Kelok 44, merupakan jalur vital yang menghubungkan jalan nasional di Sungai Limau dengan jalan nasional di Padang Lua. Perannya besar bagi distribusi orang maupun barang,” jelas Erasukma.

Menurutnya, hasil rehabilitasi membuat jarak tempuh dari Sungai Limau ke Maninjau lebih singkat. Jika sebelumnya masyarakat harus memutar sejauh 28,6 kilometer, kini berkurang sekitar 17 kilometer.

Meski demikian, ia mengakui keterbatasan anggaran menyebabkan perbaikan hanya bisa difokuskan pada titik terparah. Tahun 2026, BMCKTR merencanakan kelanjutan proyek guna memperkuat ruas strategis ini agar tidak kembali mengalami kerusakan.

Dorongan untuk Pemeliharaan Berkelanjutan

PPK Risman menambahkan, langkah perbaikan kali ini bukan hanya sebatas membuka kembali jalur, tetapi juga menekankan pada ketahanan infrastruktur jangka panjang. “Kami memasang bronjong dan vegetasi agar lereng stabil. Jika ke depan ada tambahan anggaran, perkuatan jalan akan terus ditingkatkan,” ujarnya.

Sementara itu, masyarakat berharap jalur Sungai Limau–Maninjau segera mendapat pengaspalan kembali, termasuk titik rawan di kawasan Lohong yang sebelumnya juga ditangani.

Dengan rampungnya perbaikan Padang Olo, wajah infrastruktur Sumatera Barat kembali diperkuat. Dinas BMCKTR menegaskan komitmennya untuk menjaga konektivitas, mendukung aktivitas ekonomi warga, dan memastikan jalur vital Sumbar tetap aman digunakan.

Adam Mustaqim

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed