NKRINEWS45. COM |
BATANG – Kapolresta Batang Kombes Pol Warsono mendorong keterlibatan generasi Z dalam menjaga kerukunan dan toleransi di tengah derasnya arus informasi digital.
Warsono bahkan menggagas konsep “Gen Z Peace” yang diarahkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam menjaga keberagaman sekaligus mencegah munculnya polarisasi akibat paparan media sosial.
Menurut Warsono, perhatian terhadap generasi Z penting karena mereka akan menjadi bagian dari regenerasi masyarakat dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
“Kita menawarkan Gen Z Peace. Gen Z maksudnya, untuk generasi ke depan ini, Gen Z supaya kita juga dilibatkan,” kata Warsono, Senin (7/9/2026).
Warsono mengatakan, kedekatan generasi muda dengan teknologi digital membawa peluang sekaligus tantangan. Media sosial dapat menjadi sarana komunikasi, tetapi algoritma juga berpotensi membuat seseorang terus menerima informasi yang memiliki pola atau sudut pandang serupa.
Kondisi tersebut, menurut dia, perlu diantisipasi agar generasi muda tidak terjebak dalam ruang informasi yang semakin sempit dan kemudian sulit menerima perbedaan.
“Karena mereka ini sekarang eranya di era digital, dan ini sebagai regenerasi ke depan 10 tahun atau 20 tahun supaya mereka juga tidak terpolarisasi dalam satu algoritma media sosial,” ujarnya.
Dorong Gagasan FKUB Gen Z
Warsono menilai pendidikan mengenai kerukunan dan toleransi perlu diberikan sejak dini. Generasi muda harus dibiasakan menerima perbedaan pendapat tanpa kehilangan semangat persatuan.
“Kita dari sejak dini sudah kita ajarkan, kita wariskan terkait masalah kerukunan, perbedaan pendapat, tapi tetap satu,” tegasnya.
Konsep tersebut, kata Warsono, dapat dikembangkan melalui pembentukan wadah yang melibatkan anak muda dalam forum kerukunan umat beragama.
“Nanti semacam FKUB Gen Z gitu,” katanya.
Menurut dia, keberadaan forum kerukunan juga perlu memiliki jangkauan hingga tingkat masyarakat paling bawah. Tidak hanya bekerja di tingkat kabupaten, tetapi dapat dikembangkan hingga kecamatan dan desa.
Warsono mencontohkan pengalaman yang pernah ditemuinya ketika berada di Klaten. Menurut dia, forum kerukunan di daerah tersebut memiliki basis hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Kalau di waktu di Klaten itu dia ada. Ini kan tatarannya kabupaten, ya. Tapi dia punya berbasis di kecamatan dan bahkan ke desa,” ungkapnya.
Dengan pola tersebut, nilai-nilai toleransi diharapkan tidak hanya menjadi pembahasan antarlembaga, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Jadi perpanjangan tangan dari FKUB sampai basisnya sampai dengan desa,” jelas Warsono.
Waspadai Polarisasi akibat Algoritma
Warsono menilai algoritma media sosial menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan dalam membangun karakter generasi muda.
Menurut dia, algoritma dapat membuat pengguna terus mendapatkan konten berdasarkan riwayat tontonan, pencarian, maupun interaksi sebelumnya.
Jika tidak diimbangi kemampuan menyaring informasi, seseorang berpotensi hanya melihat satu sudut pandang secara berulang.
“Kalau memang sehari-hari dengan algoritma media sosial itu diberikan hal seperti itu, akhirnya dia membuat persepsi yang meyakinkan, akhirnya tidak mau menerima yang lain,” tuturnya.
Kondisi tersebut, kata Warsono, menjadi berbahaya apabila berkembang menjadi sikap eksklusif dan membuat seseorang sulit membaur dengan kelompok lain.
“Nah, ini yang berbahaya. Jadi dia akhirnya terkotak-kotak. ‘Saya, saya. Dia, dia,’ gitu. Jadi seperti tidak bisa membaur,” katanya.
Karena itu, pendidikan karakter bagi generasi Z dinilai tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan teknologi. Nilai sosial yang telah lama hidup di masyarakat juga perlu dipertahankan.
Warsono menyebut sejumlah nilai seperti tepo seliro, andhap asor, guyub rukun, gotong royong, dan kerja sama sebagai karakter yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
“Itu tadi, mungkin dari nenek moyang ada tepo seliro, andhap asor, guyub rukun, gotong royong, kerja sama,” ujarnya.
Menurut Warsono, perubahan era digital membuat pola interaksi masyarakat berbeda dibandingkan sebelumnya. Namun, nilai menghargai orang lain, merendahkan ego, hidup berdampingan, dan bekerja sama tetap diperlukan.
“Istilah-istilah itu sebenarnya sudah diajarkan dari dulu. Nah, cuma sekarang ini kan eranya sudah berbeda,” katanya.
Warsono berharap keterlibatan Gen Z dalam menjaga kerukunan dapat menjadi bagian dari regenerasi forum toleransi di Kabupaten Batang.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi sasaran pendidikan kerukunan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam membangun komunikasi lintas kelompok dan menjaga keberagaman.
“Karakter-karakter seperti itu yang harus tetap kita ajarkan,” pungkasnya.(Humas Polresta Batang).
Red-Spyd

















