NKRINEWS45. COM |
Oleh: Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas, S.Pd., M.Pd.
Sebagai guru, saya meyakini bahwa pembelajaran yang bermakna perlu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memahami persoalan di sekitarnya dan belajar menemukan solusi. Keyakinan tersebut mendorong saya mengembangkan KASTENGEL MADU, sebuah Media Pembelajaran Interaktif (MPI) yang dirancang untuk mengintegrasikan literasi lingkungan, penguatan karakter, dan literasi numerasi melalui pembelajaran mendalam.
KASTENGEL MADU merupakan akronim dari *Rekayasa Literasi Lingkungan Melalui Pembelajaran Mendalam Terpadu*. Media ini saya kembangkan menggunakan LUMI/H5P dengan menggabungkan materi pembelajaran, ilustrasi, narasi, video, kuis, dan aktivitas interaktif dalam satu rangkaian pengalaman belajar.
Gagasan utamanya sederhana: persoalan lingkungan di sekolah dapat menjadi konteks pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka tidak hanya mempelajari pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga diajak memahami masalah, merancang gagasan, melakukan tindakan, dan merefleksikan hasilnya.
Merancang Pembelajaran dari Persoalan Lingkungan
Dalam merancang KASTENGEL MADU, saya berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada penyampaian materi. Persoalan sampah daun, plastik, dan kertas di lingkungan sekolah dapat digunakan sebagai konteks untuk mengembangkan berbagai kompetensi sekaligus.
Saya ingin peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, MPI ini disusun dengan alur pembelajaran yang membantu mereka mengenali persoalan lingkungan, memikirkan alternatif penyelesaian, dan menentukan tindakan yang dapat dilakukan.
KASTENGEL MADU dikembangkan sebagai media digital yang dapat dibagikan melalui tautan dan dikemas untuk diakses melalui perangkat Android. Melalui LUMI/H5P, saya menyusun materi dan aktivitas interaktif agar peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara bertahap, sementara guru tetap berperan dalam memberikan pendampingan, memfasilitasi diskusi, dan menghubungkan aktivitas digital dengan kondisi nyata.
Bagi saya, teknologi bukan tujuan akhir. Media digital perlu membantu peserta didik memahami materi dan memberi ruang bagi mereka untuk berpikir, bertanya, serta mencoba menyelesaikan persoalan.
Feel–Imagine–Do–Share sebagai Alur Pembelajaran
KASTENGEL MADU menggunakan tahapan *Feel–Imagine–Do–Share* yang diadaptasi dari pendekatan Design for Change.
Pada tahap *Feel*, peserta didik diajak mengenali persoalan lingkungan melalui pengamatan dan aktivitas dalam MPI. Mereka belajar melihat kondisi di sekitar, memahami masalah, dan menyadari mengapa persoalan tersebut perlu diperhatikan.
Tahap *Imagine* mengajak peserta didik memikirkan lingkungan yang lebih baik serta merancang gagasan penyelesaian. Mereka dapat berdiskusi, mempertimbangkan pilihan, dan menghubungkan informasi yang diperoleh dari media dengan situasi yang mereka temui.
Pada tahap *Do*, gagasan yang telah dirancang diterapkan melalui kegiatan nyata. Salah satu bentuk penerapan pembelajaran KASTENGEL MADU adalah pembuatan Happy Trash Bin (HTB), yaitu tempat sampah edukatif yang dilengkapi sistem suara untuk menarik perhatian dan mendukung pembiasaan membuang sampah pada tempatnya.
Dengan demikian, HTB bukanlah inovasi utama yang berdiri sendiri, melainkan salah satu produk aksi peserta didik dalam rangkaian pembelajaran menggunakan MPI KASTENGEL MADU. Media interaktif menjadi sarana untuk mengarahkan proses belajar, sedangkan pembuatan HTB menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk menerapkan gagasan dalam tindakan.
Tahap *Share* memberikan ruang bagi peserta didik untuk membagikan pengalaman, menceritakan proses yang telah dilakukan, dan merefleksikan pembelajaran. Melalui tahap ini, pengalaman belajar diharapkan tidak berhenti pada penyelesaian kegiatan, tetapi juga mendorong peserta didik memahami makna tindakan mereka.
Mengintegrasikan Literasi Lingkungan, Karakter, dan Numerasi
Salah satu hal yang saya upayakan melalui KASTENGEL MADU adalah menghubungkan beberapa kompetensi dalam satu konteks pembelajaran.
Literasi lingkungan dikembangkan melalui kegiatan mengenali persoalan sampah, memahami informasi, dan mempertimbangkan tindakan yang bertanggung jawab. Penguatan karakter diintegrasikan melalui pembiasaan menjaga kebersihan, bekerja sama, menyelesaikan tugas, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Literasi numerasi juga dapat dihadirkan melalui aktivitas yang berkaitan dengan pengamatan dan data. Peserta didik dapat menghitung jumlah sampah, membandingkan hasil pengamatan, membaca informasi numerik, dan menggunakan data sederhana untuk mendiskusikan kondisi lingkungan sekolah.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan mengingat informasi. Peserta didik memperoleh kesempatan untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam memahami persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Saya menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak dapat ditentukan hanya oleh keberadaan media digital. Pendampingan guru, kesesuaian aktivitas dengan tujuan pembelajaran, kesempatan berdiskusi, dan keterlibatan peserta didik tetap menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Berbagi MPI dengan Rekan Pendidik
KASTENGEL MADU mulai saya bagikan kepada guru-guru dan digunakan dalam pembelajaran pada September 2025. Saya berharap media ini dapat menjadi alternatif bagi pendidik untuk mengembangkan pembelajaran yang interaktif dan kontekstual.
Salah satu tanggapan datang dari Mustika Kusuma Astuti, S.Pd., guru SDN 4 Singorojo. Ia menyampaikan terima kasih karena aplikasi KASTENGEL MADU membantu pembelajaran karakter serta literasi dan numerasi di SDN 4 Banyuringin.
Bagi saya, tanggapan dari rekan pendidik menjadi bagian penting dalam proses berbagi praktik baik. Media pembelajaran yang dikembangkan guru akan semakin bermanfaat ketika dapat digunakan, dipelajari, dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran.
Saya juga memahami bahwa kondisi setiap sekolah berbeda. Karena itu, pemanfaatan KASTENGEL MADU perlu mempertimbangkan karakteristik peserta didik, ketersediaan perangkat, akses internet, dan konteks permasalahan yang diangkat. Media ini bukan pengganti peran guru, melainkan salah satu sarana untuk mendukung proses pembelajaran.
Inovasi yang Berangkat dari Pembelajaran
Proses mengembangkan KASTENGEL MADU memberi saya kesempatan untuk terus belajar tentang bagaimana teknologi dapat digunakan secara tepat dalam pendidikan. Saya belajar bahwa membuat media interaktif bukan hanya tentang menyusun tampilan, video, atau kuis, tetapi juga merancang pengalaman belajar yang memiliki tujuan dan keterkaitan dengan kehidupan nyata.
Bagi saya, Happy Trash Bin merupakan salah satu contoh bagaimana pembelajaran melalui MPI dapat dilanjutkan menjadi aksi nyata. Namun, inti inovasi ini tetap terletak pada rancangan media pembelajaran yang menghubungkan materi, aktivitas interaktif, refleksi, dan tindakan.
Saya berharap KASTENGEL MADU dapat menjadi inspirasi bagi guru lain untuk memulai inovasi dari persoalan yang ada di lingkungan masing-masing. Tema pembelajaran dapat berbeda, tetapi prinsipnya tetap sama: peserta didik perlu memperoleh kesempatan untuk memahami masalah, memikirkan solusi, melakukan tindakan, dan belajar dari pengalaman.
Pada akhirnya, saya mengembangkan KASTENGEL MADU bukan semata-mata untuk menghadirkan teknologi ke dalam kelas. Saya ingin teknologi menjadi sarana yang membantu pembelajaran lebih bermakna, menguatkan karakter, dan memberi ruang bagi peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Red-Spyd








































